Mad Badal merupakan bagian ketiga dari mad far’i. Mad Badal adalah mad yang muncul disebabkan karena hamzah. Oleh karena itu, tergolong ke dalam mad far’i. Selain itu, panjangnya mad badal ada yang membacanya melebihi mad thabi’i, yaitu 4 atau 6 harakat, sehingga tidak kategorikan sebagai mad thabi’i. Berikut penjelasan lengkapnya.

Pengertian Mad Badal

Secara Bahasa: Mad berarti panjang.

Sedangkan badal artinya “ganti”, yaitu mengganti hamzah sukun menjadi mad.

Pengertian mad badal menurut ilmu tajwid adalah “Hamzah yang dibaca panjang pada suatu kata, karena setelahnya ada huruf mad dan setelah mad tidak ada hamzah atau sukun”.

Contoh:

mad badal

Keterangan:

Yang diberi warna merah adalah mad alif, ya’ dan wau, sedangkan yang diberi warna hijau adalah hamzah. Hamzah dibaca panjang karena setelahnya ada huruf mad.

Sebab Penamaan Mad Badal

Dalam kaidah ilmu sharaf, ada kaidah yang disebut dengan kaidah Badal, yaitu:

Apabila ada dua hamzah di awal kata (hamzah yang pertama berharakat dan kedua sukun), maka hamzah kedua [hamzah yang sukun] diubah menjadi huruf mad yang sesuai dengan harakat hamzah yang pertama untuk meringankan bacaan. Dinamakan badal, karena secara umum hamzah yang dibaca panjang berasal dari hamzah sukun yang diganti menjadi mad.

mad badal

Catatan:

Tidak semua mad badal berasal dari hamzah sukun yang diubah menjadi mad.

Ada juga hamzah yang dibaca panjang memang asli dari suatu kata. Misal pada kata-kata berikut:

Meskipun demikian, setiap hamzah yang dibaca panjang tetap disebut sebagai mad badal, walaupun tidak berawal dari hamzah sukun yang diubah menjadi mad. Karena secara umum, hamzah yang dibaca panjang, berasal dari hamzah sukun yang diubah menjadi mad.

Panjang Mad Badal

Hukum bacaan panjang pada mad badal adalah:

Mad Badal boleh dibaca panjang 2, 4 atau 6 harakat.

Dan dibaca panjang 2 harakat menurut bacaan hampir seluruh ulama qurra’ termasuk riwayat Hafsh dari imam Ashim.

Sedangkan dibaca panjang 2, 4 atau 6 harakat hanya menurut riwayat Warsy dari imam Nafi’.

Sebab Tidak Dikategorikan Sebagai Mad Thabi’i

Meskipun mad badal dibaca panjang 2 (dua) harakat seperti mad thabi’i, tetapi mad ini tidak dimasukkan ke dalam kelompok mad thabi’i karena:

1. Adanya hamzah sebelum mad.

2. Secara umum bacaan mad pada mad badal tidak asli. Namun, perubahan dari hamzah sukun ke huruf mad.

3. Para Ulama berbeda tentang panjang bacaan mad badal, meskipun hampir semua ulama membacanya dengan panjang dua harakat, kecuali riwayat Warsy dari imam Nafi’ yang dibaca panjang 2, 4 atau 6 harakat.

Keadaan Mad Badal

Kondisi-kondisi atau keadaan mad badal dari segi muncul atau tidaknya ketika washal atau waqaf:

1. Mad badal saat washal maupun waqaf; contoh:

mad badal

2. Mad badal saat washal, tetapi tidak ada saat waqaf. Contoh: Apabila berhenti pada kata berikut:

mad badal

Pada saat washal, mad badal ada. Tetapi saat waqaf, mad badal tidak ada dan berubah menjadi mad aridl lissukun yang dibaca panjang 2, 4 atau 6 harakat.

3. Mad badal saat waqaf, tetapi tidak ada saat washal; yaitu pada contoh:

Saat washal disebut sebagai mad jaiz munfashil karena bertemu dengan hamzah di lain kata. Tetapi saat waqaf, hamzah dibaca panjang dua harakat (karena tidak bertemu hamzah) dan termasuk mad badal

4. Mad badal saat di awal, tetapi tidak saat washal (disambung dengan kata sebelumnya); yaitu jika hamzah pertama adalah hamzah washal seperti pada contoh berikut:

Pada saat disambung dengan kata sebelumnya, hamzah washal tidak dibaca dan dianggap tidak ada, sehingga kata sebelumnya langsung ke hamzah sukun; “fis samaawaati’ tuunii”.

Tetapi jika di awali dari kata ( ائْتُونِي), hamzah washal dibaca kasrah dan hamzah sukun diubah menjadi mad ya’ sehingga dibaca “iituuni

Kesimpulan

Meskipun mad badal asalnya adalah hamzah sukun yang diubah menjadi mad, tetapi definisi atau pengertian mad badal dibuat lebih umum, yaitu setiap hamzah yang dibaca panjang 2 harakat, dinamakan mad badal.

Secara hukum mad badal boleh dibaca dengan panjang 2 , 4 atau 6 harakat. Namun, riwayat yang kita gunakan, mad badal dibaca panjang 2 harakat saja. Oleh sebab itu, saat membaca mad ini, jangan terlalu panjang melebihi 2 harakat. Wallallahu a’lam

Baca Juga: Mad Thabi’i; Ketentuan Bacaan yang Tidak Boleh Diabaikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *