Pertanyaan:

Saya mau bertanya ustad.. kadang saya suka bingung ketika teman mengajak saya untuk ikutan tahsin. Pas saya tanya, tahsin itu apa? Dia menjawad tahsin itu belajar mengaji, padahal saya sudah bisa mengaji dari kecil. Apa sebenarnya tahsin itu? Perlukah kita belajar tahsin padahal sudah bisa membaca al-Quran?

Siti, Bekasi

Jawaban:

Bismillah wal hamdu lillah, wash shalatu was salamu ala rasulillah.

Ibu Siti di Bekasi, terima kasih karena sudah bertanya pada kami. Mudah-mudahan jawaban kami membantu mengobati rasa keingintahuan ibu.

Kata tahsin berasal dari akar kata hassana yuhassinu tahsiinan (حَسَّنَ يُحَسِّنُ تَحْسِيْنًا) yang memiliki persamaan makna dengan jawwada yujawwidu tajwidan (جَوَّدَ يُجَوِّدَ تَجوِيْدًا). Maknanya adalah memperbagus dan memperindah. Sedangkan tahsin atau tajwid menurut istilah adalah memperbagus bacaan al-Quran agar sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah -shallahualaihi wa sallam- .

Perlukah kita belajar tahsin?

Membaca al-Quran tidak cukup hanya bisa saja. Namun, harus diperhatikan bagaimana kita mengucapkan hurufnya, apakah sudah benar atau belum? Jika bacaan kita masih belum benar, maka perlu mengikuti bimbingan tahsin al-Quran.

Apabila kita membaca al-Quran dan kita tahu bacaan kita masih banyak kesalahan. Namun, tidak ada upaya dari kita untuk memperbaikinya, maka bukan pahala yang kita dapat. Justru kita mendapatkan dosa. Karena kesalahan membaca al-Quran bisa menyebabkan perubahan makna.

Setidaknya ada dua kesalahan yang harus dihindari:

  1. Lahn Jaliy (kesalahan yang jelas)

Kesalahan jaliy meliputi:

  1. Pengucapan huruf yang salah. Seperti mengucapkan huruf ain tetapi yang keluar bunyi huruf hamzah. Mengucapkan huruf shad, yang terdengar huruf sin. Kesalahan ini bisa menyebabkan perubahan makna.
  2. Mengubah harakat. Contoh: Huruf ta’ pada kata (أَنْعَمْتَ) berharakat fathah, tetapi apabila dibaca dhammah (أَنْعَمْتُ), artinya akan berubah. Jika dibaca fathah, artinya “Engkau (Allah) beri nikmat”. Dan jika dibaca dhammah, maknanya “aku beri nikmat”.

Para ulama’ sepakat bahwa membaca al-Quran dengan lahn jaliy adalah haram. Barang siapa yang melakukannya dengan sengaja, maka dia telah berdosa.

  • Lahn Khafi (kesalahan yang samar)

Lahn khafi adalah kesalahan yang berkaitan dengan kaidah tajwid, seperti tidak meng-idgham-kan nun, padahal setelahnya ada huruf wau atau ya’. Tidak mensamarkan nun, padahal setelahnya ada qaf dan semisalnya. Kesalahan ini tidak berkaitan dengan bahasa Arab sehingga tidak sampai merubah makna.

Para ulama’ berbeda pandangan tentang pembaca yang jatuh pada kesalahan ini. Ada yang berpendapat haram , ada pula yang berpendapat makruh.

Pendapat yang kuat dari dua pendapat ini adalah pendapat yang pertama, yaitu haram. Sebagaimana yang di sebutkan dalam kitab “Nihayatul qaulil Mufid”; “Secara keseluruhan perubahan ini diharamkan, walapun tidak sampai mengubah makna. Akan tetapi, dapat merusak dan mengurangi keindahan al-Quran.” Lagipula bacaan yang disertai dengan idgham, ikhfa’ dan sebagainya merupakan bacaan yang diajarkan oleh Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam– kepada para sahabatnya hingga sampai kepada kita. Maka, sudah selayaknya kita mengikuti jejak mereka.

Sebelum mengakhiri pembahasan ini. Ada yang perlu diketahui oleh pembaca sekalian, belajar al-Quran tidak bisa langsung dari mushaf al-Quran meskipun tulisan mushaf tersebut sangat jelas. Dan tidak pula bisa dipelajari melalui buku, meskipun penjelasan yang ada dalam buku sangat jelas dan terperinci. Namun, belajar al-Quran harus melalui guru yang sudah bagus bacaannya. Selain kita bisa mendengar langsung bagaimana mengucapkan huruf yang benar dari lisan guru, bacaan kita pun akan diperbaiki apabila masih terdapat kesalahan bacaan.

wallahu ta’ala a’lam bis shawab

Demikian jawaban yang bisa kami berikan, semoga bermanfaat.

Ada permasalahan seputar tajwid? Silakan kirim pertanyaan Anda di halaman konsultasi tajwid, insya Allah kami akan membantu Anda mencari jawabannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *